Langsung ke konten utama

Menginap di Soetta

Semalam setelah menunggu Lion Air yang delay dari jam 20.00 ke 23.oo akhirnya mendarat di Soekarno Hatta International Aiport sekitar menjelang pukul 24.00. Sedikit flashback, saat menunggu delay di Adisucipto selama tiga jam, ternyata kompensasi yang diterima masing-masing jurusan berbeda, meskipun maskapainya sama. Sebagai perbandingan, maskapai BUMN memberikan nasi box produksi rumah katering mereka sendiri yang cukup wah. Sementara yang saya dapatkan adalah air mineral dan nasi menu ayam yang cukup terkenal dikalangan mahasiswa dan masyarakat jogja, sebutlah Jogchiks :). Padahal penumpang Lion Air jurusan kota lain 'hanya' mendapatkan roti yang kira-kira harganya dua ribuan plus air mineral. Entahlah apa sebabnya kok beda. :)

Setelah mendarat, para penumpang di angkut dengan bus bandara milik Lion Air, lumayan lama perjalanan (saya tidak tahu mendarat di sisi mana), akhirnya kami turun di terminal 3 yang masih relatif baru, bersebelahan dengan terminal 3 Ultimate yang belum jadi diresmikan (isunya direktur Angkasa Pura yang membawahi Soetta akan gantikan Jonan). Sudah beberapa kali saya naik maupun turun lewat terminal ini. Namun baru pertama kalinya akan nginap di Soetta, khususnya malam ini. Setelah memasuki pintu kedatangan menuju pintu keluar, saya mampir ke toilet dulu dan merasakan toilet yang sebenarnya tidak kalah dengan Changi soal kebersihan dan sarananya (yang kalah hanya kebiasaan penggunanya, termasuk saya :).

Lanjut keluar ternyata saya melewati mushola, sekalian sholat isya saya mampir ke mushola tersebut. luasnya sekitar 6x8 meter dengan lantai marmer yang bersih dan air jernih. Ternyata di mushola tersebut telah ada empat orang yang tidur dengan alat masing-masing, terpisah antara pria dan wanita. Seusai sholat, saya memutuskan untuk istirahat di mushola tersebut sambil menunggu check in jam empat pagi, lumayan masih ada waktu sekitar tiga jam an untuk memejamkan mata. Kebetulan ada satu orang yang masih asyik dengan lepinya, akhirnya kami ngobrol. Dia adalah Arif, mahasiswa Akakom jurusan TI yang berasal dari Kabupaten Melawi, Kalbar, yang juga menunggu untuk melanjutkan perjalanan ke Jogja jam 5.30 nanti. Setelah ngobrol singkat, saya merebahkan badan di atas karpet yang tadinya masih digulung, saya sengaja gelar untuk alas tidur karena ac masih menyala dan lantainya sangat dingin. Dengan bantal tas kecil digulung sarung, pakai kaos kaki dan penutup kepala, lumayan enak untuk memejamkan mata. Namun tetap harus waspada karena di tempat umum, kaki saya sengaja masukkan pada tali tas punggung. Walau memang tidak sepenuhnya tenang, karena ada saja orang yang datang menyusul tidur, bahkan ada yang mendengkur cukup keras, tempat tersebut cukup rekomended sebagai tempat transit untuk menunggu penerbangan pagi.

Awalnya saya memang merencanakan tidur di terminal dua F, sebagaimana yang saya dapatkan infonya di internet. Namun ternyata di mushola terminal 3 tampaknya lebih nyaman, meski belum merasakan menginap di terminal lainnya. Yang perlu diantisipasi adalah jika penerbangan selanjutnya tidak di terminal tiga, ternyata bis shuttle bandara di saat dini hari tidak per setengah jam seperti di siang hari. Pas saya keluar dari terminal tiga untuk menuju terminal satu, ketinggalan sepersekian detik dari bis shuttel, menunggu shuttel selanjutnya di saat dinihari ternyata penuh ketidakpastian. Dari jam tiga hingga jam 4 kurang sedikit, bis shuttel belum jua muncul lagi. Agak panik karna takut ketinggalan pesawat di terminal satu A, saya ngobrol dengan satpam dan disarankan naik ojek saja. Okelah, itu satu-satunya pilihan saat mendesak tersebut. Sebelum naik saya tanya tarif tukang ojek, dia minta empat puluh ribu, saya tawar dua puluh belum boleh dan akhirnya sepakat tiga puluh ribu.

Meluncur ke terminal satu dengan ojek merupakan pilihan terbaik saat dinihari tanpa shuttel, karena tidak sampai sepuluh menit saya masuk terminal satu A di jam 4.15, dan sudah diminta boarding. Untungya sudah web checkin, saya langsung masuk ruang tunggu tanpa harus lewat konter checkin (sebuah proses yang memakan waktu) dan tanpa boarding pass, seperti halnya di jogja. Pukul 4.25 masuk pesawat dan melanjutkan perjalanan berikutnya tepat jam 5 pagi tanpa harus delay meski menggunakan maskapai yang sama.

Inilah pengalaman pertama saya menginap di Soetta, yang pada intinya cukup memuaskan dan mendebarkan. Pengalaman berharga bagi saya khususnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

17 Jam bersama Harapan Jaya

Perjalanan darat yang telah lama tak saya lakukan. Kali ini saya memilih armada bus untuk melakukan perjalanan dari Bogor ke Trenggalek/Tulungagung. Sebenarnya ada banyak pilihan untuk perjalanan tersebut lbh cepat sampai, bisa kereta maupun pesawat udara. Namun saya lebih memilih naik bus karena memang sudah lama tidak melakukan perjalanan jauh dengan moda ini, dan ingin mencoba nya lagi tentu saja dengan lewat beberapa tol di Jawa.
Bus milik armada Harapan Jaya (Harja) kali ini yang saya pilih, karena memang memiliki reputasi bagus dalam bidang ini. Sebelumnya saya sempat mencari banyak informasi tentang trayek ini, pilihan armada dan perusahaan penyedianya. Selain Harja, saya menemukan armada Gunung Harta dan Lorena. Harga sekitar Rp 240.000,- hingga Rp 355.000,- tergantung kelas yang dipilih. Secara umum armada tersebut berangkat dari Bogor kisaran jam 11 hingga 13 siang. 

H-3 keberangkatan saya sempat hubungi nomor WA agen Harja Bogor yang berada di Tajur, untuk memperoleh infor…

Local Guides Perk

Hobi utak-atik peta, khususnya Google Maps membawa banyak manfaat. Salah satu produk Google ini memberikan poin bagi pengguna (istilahnya kontributor) yang suka menandai tempat tertentu, mengunggah foto dan lain sebagainya. Ada level tertentu sesuai poin yang bisa kita dapatkan. Setiap level ada manfaat dan bonusnya masing-masing. Beberapa diantaranya potongan menginap di hotel, potongan naik bus hingga voucer belanja. 

Salah satu yang paling menarik dan menantang adalah di undang dalam Google Local Guides Connect Live, yang tahun 2020 ini rencananya dilaksanakan di Bay Arena, California. Google memfasilitasi tiket, dan akomodasi sepenuhnya dalam acara tersebut, info lengkapnya di https://www.localguidesconnect.com/ , ayo ikut mencoba mendapatkan tiketnya :).
Bicara level, alhamdulillah karena rajin menandai, unggah foto, hingga mengedit lokasi, saya sudah sampai level sembilan, dengan poin sekitar delapan puluh delapan ribu, mendekati level 10 di angka seratus ribu. Namun itu bukan t…

Soetta ke Bandung dengan Primajasa

Mudik Lebaran 2019 ini hampir sama dengan tahun yang lalu, via Jakarta dan Bandung. Pada tahun ini dari Soetta menuju Bandung saya mempergunakan Bus sebagai sarana penghubung, sedikit berbeda dengan tahun yang lalu dengan kereta api.

Banyak pilihan moda transportasi dari Bandara terbesar di Indonesia ini, mulai dari travel, kereta api hingga bus. Untuk Bus sendiri ada banyak operator yang mengoperasikannya, namun saya memilih Primajasa karena sudah pernah menggunakan sebelumnya dengan tujuan yang berbeda.


Primajasa sendiri di bandara Soekarno Hatta bisa kita naik dari terminal 1B dan Terminal 3. Bus tujuan Bandung tersedia setiap setengah jam, sehingga memudahkan bagi penumpang. Asyiknya dengan bus ini adalah tempat duduk sudah ditentukan sejak kita membeli tiket di loketnya, yang tercetak di tiket masing-masing. Setiap penumpang mendapatkan air mineral sebagai teman perjalanan. Tiket Soetta ke Bandung seharga 115 ribu. Ketika naik, bus full penumpang, baik yang pulang kerja maupun mudi…