Popular Posts

18 Oct 2018

Komentar

Manusia membawa karakternya ke manapun, dimanapun. Baik saat masih menjadi orang biasa, atau telah menjadi luar biasa. Kita dibesarkan oleh lingkungan dan memiliki pengaruh yang kita rasakan sampai dewasa, bahkan tua.

Dalam hidup pastilah sebagai makhluk sosial kita berinteraksi dengan orang lain, bisa jadi lebih muda maupun sebaliknya. Bisa juga lebih "tinggi" maupun lebih "rendah" kedudukannya di bandingkan kita (dalam sudut pandang mata manusia). Namun apakah boleh kita selalu menilai orang lain, bahkan dengan enaknya menganggap yang lain lebih rendah, atau kurang segalanya dibandingkan kita. Ini yang sering tidak kita sadari. Betapa mudahnya mencari kekurangan orang, sementara kita selalu merasa lebih baik, lebih benar darinya.

Saya rasa kita perlu sering merenung atas hal ini, mengapa? Kita tidak pernah lepas berinteraksi dengan siapapun, kita bisa jadi saat ini dibutuhkan orang, namun siapa pun tahu di lain waktu kita pasti akan membutuhkan orang lain. Janganlah kita mudah mengeluarkan komentar yang tidak baik terhadap siapapun, bahkan menasehati orang juga ada trik-trik nya. Ingat, mulut kita satu, telinga dua, maka lebih baik banyak mendengar daripada banyak bicara. Watuk bisa di obati, namun Watak susah untuk diubah.

2 Oct 2018

Kota Angin Mamiri


Papan penanda pulau

Berkunjung pertama kali ke kota ini beberapa waktu yang lalu. Bandara Hasanuddin terletak di luar kota, lebih tepatnya di Kabupaten Maros. Untuk menuju ke Makassar di tempuh sekitar satu jam menggunakan taksi maupun ojek online yang tersedia secara tertutup di bandara. Jalan tolnya mulus seperti umumnya di Jawa. Sesampai di hotel dan menaruh barang, teman-teman langsung mengajak jalan ke pulau Samalona, sebuah pulau kecil di tengah laut. Untuk menuju ke sana dapat ditempuh dengan perahu sewa dari pelabuhan Popsa, demikian masyarakat menyebutnya. Sewa perahu durasi tiga jam dengan isi empat sampai enam orang sekitar empat ratus ribu. Perjalanan ke pulau tersebut sekitar setengah jam yang menawarkan pemandangan laut dan langit yang membiru, sangatlah indah.

Sesampainya di sana, pasir putih menyambut dengan hangat kala senja tiba. Beberapa warga lokal mengampiri, menawarkan alat selam dan baju renang dengan harga terjangkau. Memang untuk menikmati keindahan tempat ini, dengan merasakan langsung menyelam di laut. Dengan ombak yang tenang dan pantai yang landai, cocok untuk berenang dan menyelam di sore hari. Pulau ini tidak terlalu luas, cukup sekitar setengah jam mengelilinginya. Tersedia juga beberapa penginapan dengan harga kisaran seratus ribu per malam.

Pasir Pantai Putih Samalona




Selepas dari Samalona, perahu menuju Gusung Laelae Caddi, untuk mengelilingi sebentar karena malam telah tiba. Setibanya di pelabuhan, perut lapar terasa langsung menemukan penawarnya, tak jauh dari pelabuhan Popsa. Ragam pilihan menu ikan dan masakan khas Makassar/Bugis tersedia. Menu ikan merupakan menu andalan, cocok untuk makan malam.




Objek lain yang saya kunjungi di kota pelabuhan ini adalah benteng Port Rotterdam, yang juga tak jauh dari pantai. Benteng ini merupakan bangunan VOC/Hindia Belanda pada masa dahulu, untuk mengamankan jalur perdagangan rempah-rempah dari kepulauan Maluku menuju Batavia dan selanjutnya ke negara Eropa. Benteng ini masih megah berdiri, dengan tembok nan tebal, dan juga bangunan perkantoran didalamnya. Ada salah satu sudut istimewa di sini, yang dulu merupakan ruang tahanan Pangeran Diponegoro saat diasingkan hingga akhir hayatnya. Sayangnya kita tidak bisa masuk ke dalam, karna petugas jaganya kebetulan tidak ada. Benteng ini sekarang selain menjadi sebuah living museum, juga menjadi tempat menyimpan berbagai koleksi penanda jaman pada saat itu. Ragam hasil budaya masyarakat Bugis, Bone dan sekitarnya tersimpan rapi dalamnya.




Museum La Galigo yang terletak dalam kompleks benteng ini terdiri atas dua lantai, dan sudah tertata secara rapi koleksinya. Seolah kita mengikuti mesin waktu menuju pada jaman kerajaan dan kolonial pada masa itu.





Halaman tengah benteng ini pada sore hari sering digunakan sebagai tempat berkumpul masyarakat sekitar untuk menikmati senja hingga malam tiba, sangat cocok untuk bersantai bersama keluarga, teman sekolah, maupun mahasiswa yang membuka lapak perpustakaan keliling.   




Selain benteng, Makassar juga memiliki Museum Kota Makassar yang tidak jauh dari kantor walikota Makassar. Berisi koleksi yang menceritakan perkembangan kota Makassar dan walikota yang pernah memimpin kota angin ini. Koleksinya cukup banyak, baju dan kain khas suku bugis tertata dengan apik, demikian juga penanda perkembangan kota. Meskipun demikian, museum ini menurut saya agak sepi, mungkin karna terlalu pagi pada saat ke sana. J

Kain Khas Makassar 
Sebelum meninggalkan kota ini, ada bainya mampir ke toko oleh-oleh seputaran jalan Pattimura, kita akan menemukan aneka kain khas bugis, termasuk juga makanan dan kerajinan setempat. Pas banget untuk tanda mata dari kota ini. Demikian, terima kasih. www.twitter.com/sasjend





17 Jam bersama Harapan Jaya

Perjalanan darat yang telah lama tak saya lakukan. Kali ini saya memilih armada bus untuk melakukan perjalanan dari Bogor ke Trenggalek/T...