Langsung ke konten utama

Kena Tilang? bayar saja, tak usah berdebat.


Pengalaman kena tilang bisa jadi tidaklah menyenangkan. Bagaimana mungkin kita "merasa" tidak salah, ehh di suruh bayar denda tilang (bukti pelanggaran) sejumlah rupiah tertentu yang terbilang tidak sedikit. Namun di sisi lain, berdebat dengan petugas seragam coklat itu saya rasa buka sesuatu yang perlu, apalagi penting jika dalam konteks ini dan masa pandemi pula. Semacam pasrah meski pun ndongkol

Jadi beberapa waktu yang lalu pulang dari urusan kantor dan masih di jam kantor saya bersama teman kantor lewat simpang Monjali dari arah barat untuk kembali ke kantor. Apesnya pas bangjo alias lampu lalu lintas beralih dari kuning ke merah, disitulah posisi bablas yang saya ambil. Ternyata tak lama kemudian, dengan motor dinas hijaunya ada yang nyusul di belakang, salip dan lambaikan tangan meminta untuk menepi. Teman semobil saat itu minta babalas alias lari saja, ga sah hiraukan. Namun saya bilang, wislah gpp di ladeni saja. Akhirnya mobil saya tepikan di arteri ring road. Dengan salam secukupnya pakpol mengampiri, minta ditunjukkan surat-surat yang ada. Ndilalah mobil yang saya sopiri (bukan punya sendiri lah) STNK nya lagi berproses di Samsat Mbantul untuk balik nama. Ya sudahlah tak kasih sim a ku saja ke polisinya. Dia minta kami nyusul ke pos Monjali sekarang atau ke pos Jakal a.k.a Kentungan kalau jam sore. Oke, tak susul ke Monjali saja biar segera selese.

Putar balik Kentungan trus bablas kembali ke bangjo Monjali. Sampe pospol di sana, ndilalah ada tiga polisi, termasuk yang nyegat tadi lagi pada makan siang. Ya akhirnya salah satunya nerima kami dan membuat semacam tulisan di blangko tilang sambil bilang pasal apa yang saya langgar. Temen saya masih mau ngotot dan debat apa bukti kalau kami melanggar, dan apa isi pasal itu. Polisinya jawab asal saja, nanti di pengadilan saja :). Yo wislah ... yang penting didompet ada surat sakti alias surat tilang pengganti sim.

.................

Lalu sesuai kertas tilang saya datang ke kejaksaan negeri Sleman sekitar dua minggu kemudian sesuai tanggal yang telah ditentukan. Ambil nomor antrian, duduk sekitar lima menit, dipanggil menuju loket di sisi kanan. Disana dicocokkan berkas, ditunjukkan sim yang ditahan, kemudian di minta bayar denda tilang ke petugas bank yang tersedia di beberapa meja. Sesuai tertulis, atas pelanggaran lampu lalu lintas dikenakan denda seratus ribu, bayar via bank plus biaya admininitrasi dua ribu limaratus. saya bayarlah sesuai itu dan kembali ke loket, dan serahkan bukti pembayaran guna di tukar barang bukti berupa sim :). Selesai sudah.

Saya rasa pelayanan 'pengembalian' sim ini cukup simpel dan pada intinya membantu negara pula. Jadi kalaupun kemudian suatu saat anda dapat rejeki di tilang, jalani saja, ga sah berdebat, apalagi pakai nitip tilang, karena pada intinya sidang tilang itu sangatlah mudah. hanya butuh waktu sebentar saja. Nuwun

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kartu e-money tidak terbaca? Mudah saja solusinya.

Pengalaman memiliki beberapa kartu jenis lain dari ATM ini, memberi kita kemudahan termasuk harus memastikan kehandalan fungsinya secara benar. Sebagai sarana pembayaran yang sah sesuai dengan peruntukannya yang di atur bank sentral kita, kartu seukuran atm ini mudah untuk didapat dan digunakan, selama fungsi magnetiknya masih kuat :). Hampir semua bank di Indonesia punya kartu jenis ini dengan beragam namanya, fungsinya sama saja. E-money punya Bank Mandiri, Brizzi punya BRI, Flash punya BCA dan masih banyak lainnya. Secara tampilan kartu ini dapat di kustom sesuai pemesan, tentu saja lewat bank penyedia. Kembali kepada pengalaman menggunakan kartu ini, saya pegang E-money sejak sekitar 2012, dapat pas acara Mandiri Run di jakarta sebagai bagian benefit bagi peserta. Desain masih standar warna coklat, dengan fungsi sebagai alat pembayaran yang masih terbatas saat itu. Untuk mengisi saldo bisa via atm dan pernah saya gunakan untuk bayar belanja di minimarket. Setelah sekian lama jarang

17 Jam bersama Harapan Jaya

Perjalanan darat yang telah lama tak saya lakukan. Kali ini saya memilih armada bus untuk melakukan perjalanan dari Bogor ke Trenggalek/Tulungagung. Sebenarnya ada banyak pilihan untuk perjalanan tersebut lbh cepat sampai, bisa kereta maupun pesawat udara. Namun saya lebih memilih naik bus karena memang sudah lama tidak melakukan perjalanan jauh dengan moda ini, dan ingin mencoba nya lagi tentu saja dengan lewat beberapa tol di Jawa. Bus milik armada Harapan Jaya (Harja) kali ini yang saya pilih, karena memang memiliki reputasi bagus dalam bidang ini. Sebelumnya saya sempat mencari banyak informasi tentang trayek ini, pilihan armada dan perusahaan penyedianya. Selain Harja, saya menemukan armada Gunung Harta dan Lorena. Harga sekitar Rp 240.000,- hingga Rp 355.000,- tergantung kelas yang dipilih. Secara umum armada tersebut berangkat dari Bogor kisaran jam 11 hingga 13 siang.  H-3 keberangkatan saya sempat hubungi nomor WA agen Harja Bogor yang berada di Tajur, untuk mem

Local Guides Perk

Hobi utak-atik peta, khususnya Google Maps membawa banyak manfaat. Salah satu produk Google ini memberikan poin bagi pengguna (istilahnya kontributor) yang suka menandai tempat tertentu, mengunggah foto dan lain sebagainya. Ada level tertentu sesuai poin yang bisa kita dapatkan. Setiap level ada manfaat dan bonusnya masing-masing. Beberapa diantaranya potongan menginap di hotel, potongan naik bus hingga voucer belanja.  Salah satu yang paling menarik dan menantang adalah di undang dalam Google Local Guides Connect Live, yang tahun 2020 ini rencananya dilaksanakan di Bay Arena, California. Google memfasilitasi tiket, dan akomodasi sepenuhnya dalam acara tersebut, info lengkapnya di  https://www.localguidesconnect.com/  , ayo ikut mencoba mendapatkan tiketnya :). Bicara level, alhamdulillah karena rajin menandai, unggah foto, hingga mengedit lokasi, saya sudah sampai level sembilan, dengan poin sekitar delapan puluh delapan ribu, mendekati level 10 di angka seratus ribu. Namun i