16.12.20

Kena Tilang? bayar saja, tak usah berdebat.


Pengalaman kena tilang bisa jadi tidaklah menyenangkan. Bagaimana mungkin kita "merasa" tidak salah, ehh di suruh bayar denda tilang (bukti pelanggaran) sejumlah rupiah tertentu yang terbilang tidak sedikit. Namun di sisi lain, berdebat dengan petugas seragam coklat itu saya rasa buka sesuatu yang perlu, apalagi penting jika dalam konteks ini dan masa pandemi pula. Semacam pasrah meski pun ndongkol

Jadi beberapa waktu yang lalu pulang dari urusan kantor dan masih di jam kantor saya bersama teman kantor lewat simpang Monjali dari arah barat untuk kembali ke kantor. Apesnya pas bangjo alias lampu lalu lintas beralih dari kuning ke merah, disitulah posisi bablas yang saya ambil. Ternyata tak lama kemudian, dengan motor dinas hijaunya ada yang nyusul di belakang, salip dan lambaikan tangan meminta untuk menepi. Teman semobil saat itu minta babalas alias lari saja, ga sah hiraukan. Namun saya bilang, wislah gpp di ladeni saja. Akhirnya mobil saya tepikan di arteri ring road. Dengan salam secukupnya pakpol mengampiri, minta ditunjukkan surat-surat yang ada. Ndilalah mobil yang saya sopiri (bukan punya sendiri lah) STNK nya lagi berproses di Samsat Mbantul untuk balik nama. Ya sudahlah tak kasih sim a ku saja ke polisinya. Dia minta kami nyusul ke pos Monjali sekarang atau ke pos Jakal a.k.a Kentungan kalau jam sore. Oke, tak susul ke Monjali saja biar segera selese.

Putar balik Kentungan trus bablas kembali ke bangjo Monjali. Sampe pospol di sana, ndilalah ada tiga polisi, termasuk yang nyegat tadi lagi pada makan siang. Ya akhirnya salah satunya nerima kami dan membuat semacam tulisan di blangko tilang sambil bilang pasal apa yang saya langgar. Temen saya masih mau ngotot dan debat apa bukti kalau kami melanggar, dan apa isi pasal itu. Polisinya jawab asal saja, nanti di pengadilan saja :). Yo wislah ... yang penting didompet ada surat sakti alias surat tilang pengganti sim.

.................

Lalu sesuai kertas tilang saya datang ke kejaksaan negeri Sleman sekitar dua minggu kemudian sesuai tanggal yang telah ditentukan. Ambil nomor antrian, duduk sekitar lima menit, dipanggil menuju loket di sisi kanan. Disana dicocokkan berkas, ditunjukkan sim yang ditahan, kemudian di minta bayar denda tilang ke petugas bank yang tersedia di beberapa meja. Sesuai tertulis, atas pelanggaran lampu lalu lintas dikenakan denda seratus ribu, bayar via bank plus biaya admininitrasi dua ribu limaratus. saya bayarlah sesuai itu dan kembali ke loket, dan serahkan bukti pembayaran guna di tukar barang bukti berupa sim :). Selesai sudah.

Saya rasa pelayanan 'pengembalian' sim ini cukup simpel dan pada intinya membantu negara pula. Jadi kalaupun kemudian suatu saat anda dapat rejeki di tilang, jalani saja, ga sah berdebat, apalagi pakai nitip tilang, karena pada intinya sidang tilang itu sangatlah mudah. hanya butuh waktu sebentar saja. Nuwun

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menikmati Sate Kambing dan Thengkleng Rica-Rica Pak Manto

Menikmati Sate Kambing dan Thengkleng Rica-Rica Pak Manto :  Kali ini mencoba menikmati sajian #KulinerJogja namun berasal dari tetangga, ya...