Langsung ke konten utama

Postingan

Samsung A50 yang ....

Berbicara brand Samsung tentu saja bukan sesuatu yang baru kemarin sore. Produsen asal Korea Selatan ini sudah sekian lama memiliki posisi penting dalam kancah bidang elektronik, lebih khusus di pergawaian. Saya kali ini akan menulis pengalaman menggunakan produk dari Samsung, khususnya gawai.  Seumur-umur hingga saat ini, saya baru dua kali beli produk Samsung. Yang pertama sekitar delapan tahun yang lalu saat android belum begitu booming, masih jamannya blackberry yang merajai saat itu. Saya lupa persisnya jenis gawai Samsung yang saya pakai saat itu. (setelah buka google photos ketemu dech, samsung champs duos tepatnya). Bentuknya sudah layar sentuh, ukuran sekitar 3,5 inchi. Namun os nya masih belum android. Sudah cukup buat telpon dan kirim pesan singkat. Beberapa aplikasi tambahan sudah sangat menarik pada saat itu, meskipun belum sebanyak seperti di play store seperti saat ini. Cukuplah buat komunikasi dan medsos pada saat itu. Harganya sekitar lima ratus ribuan d

Soetta ke Bandung dengan Primajasa

Mudik Lebaran 2019 ini hampir sama dengan tahun yang lalu, via Jakarta dan Bandung. Pada tahun ini dari Soetta menuju Bandung saya mempergunakan Bus sebagai sarana penghubung, sedikit berbeda dengan tahun yang lalu dengan kereta api. Banyak pilihan moda transportasi dari Bandara terbesar di Indonesia ini, mulai dari travel, kereta api hingga bus. Untuk Bus sendiri ada banyak operator yang mengoperasikannya, namun saya memilih Primajasa karena sudah pernah menggunakan sebelumnya dengan tujuan yang berbeda. Primajasa sendiri di bandara Soekarno Hatta bisa kita naik dari terminal 1B dan Terminal 3. Bus tujuan Bandung tersedia setiap setengah jam, sehingga memudahkan bagi penumpang. Asyiknya dengan bus ini adalah tempat duduk sudah ditentukan sejak kita membeli tiket di loketnya, yang tercetak di tiket masing-masing. Setiap penumpang mendapatkan air mineral sebagai teman perjalanan. Tiket Soetta ke Bandung seharga 115 ribu. Ketika naik, bus full penumpang, baik yang pulang ke

Nasi Katok di Bandar Sri Begawan

Kali ini bulan puasa bahas makanan praktis ala negeri Sultan, yang tempat jualnya mirip-mirip fast food ala negeri kita. Ingat, namanya Nasi Katok, bukan nasi kotak. Lokasi belinya saat itu di terminal bandar raya Sri Begawan, (semacam terminal sentral kalo di KL, atau terminal Tirtonadi di Solo). Kedai Nasi Katok Seri Mama Express namanya. Menyajikan makanan cepat Ayam Goreng plus nasi dan sambal secukupnya. Nasi nan hangat menambah nikmatnya makanan tersebut. Sambalnya juga pas, mirip-mirip sambal goreng rumahan bikinan sendiri. Bisa makan di tempat maupun di bungkus, dengan harga sekitar satu dolar brunai, yang kursnya selalu disamakan dengan dolar singapura. Murah dan Nikmat tentunya. Patut di coba saat jalan ke negeri ini.

Buku Bagus tentang AC Milan

Check out @sasjend’s Tweet: https://twitter.com/sasjend/status/1121698046973104129?s=09 Sebuah buku yang mengupas luar dalam tentang @acmilan terutama dalam hal manajemen ekonominya. Setidaknya memberikan gambaran bagaimana pengelolaan sesbuah klub dengan berbagai macam lika-likunya. Sebagai penggemar klub legendaris ini, kiranya perlu untuk membaca lebih dalam buku ini, di saat kondisi prestasi yang tengah terpuruk, sebagai Milanisti kita mesti bersabar. :)  

Reschedule Garuda yg Menyenangkan

Mudik akhir tahun 2018 kemarin telah saya rencanakan sejak lama, terutama urusan cuti kantor dan tentu saja tiket. Urusan cuti sudah beres, ada sisa cuti yang bisa saya tangguhkan untuk tahun 2019 ini. Kali ini mudik dalam rangka cuti akhir tahun sekaligus ada acara keluarga. Tiket mudik berdua sudah saya beli sejak pertengahan tahun melalui aplikasi https://www.tokopedia.com/  yang saat itu ada promo cash back sekitar 20% dari harga tiket. Tiket dua orang saya pesan masing-masing dengan kode booking yang berbeda. Untuk mengoptimalkan cashback, tentu saja. :) Tiket yang saya ambil menggunakan maskapai Garuda Indonesia  https://www.garuda-indonesia.com/id/id/ untuk tanggal 24 Desember, dengan rute Tarakan ke Yogyakarta, transit satu kali di Balikpapan. Sesuai jadwal berangkat jam 09.40 waktu setempat, sampai tujuan jam 13.20 waktu setempat. Hanya sekitar tiga jam perjalanan sudah sampai, itupun termasuk transit. Penerbangan ini menggunakan pesawat jet Bombardier CRJ1000. Pesawat

Hutan Mangrove dan Bekantan Tarakan

Selain terkenal dengan riwayat minyaknya, Tarakan sebagai kota pulau memiliki beberapa ciri khas lain yang tak kalah menarik. Salah satunya adalah adanya kawasan konservasi Mangrove dan Bekantan nya. Berlokasi di kawasan Gusher, tak jauh dari simpang tiga, lokasi ini mudah dijangkau. Sekitar empat kilometer dari bandara Internasional Juwata Tarakan. Tiket masuk lokasi ini adalah lima ribu untuk dewasa dan tiga ribu rupiah untuk anak-anak dan pelajar/mahasiswa.  Objek ini biasanya ramai di akhir pekan, banyak anak sekolah maupun mahasiswa yang sengaja di arahkan gurunya untuk melakukan kegiatan luar sekolah di sini. Mahasiswa biasanya melakukan pengamatan ragam flora dan fauna di ekosistem ini. Beragam jenis tanaman bakau ada di kawasan ini, sengaja dilestarikan dan dilengkapi ragamnya guna menjaga keberlangsungan tumbuhan unik ini. Sebagaimana kita ketahui, mangrove memiliki kekuatan akar yang mampu menahan ombak bahkan mereduksi kekuatan gelombang Tsunami.

Guruku

Hari ini, 25 November diperingati sebagai Hari Guru. Begitulah pemerintah menetapkan nya sejak beberapa waktu yang lalu. Kemarin kita mungkin menjumpai beberapa bapak ibu guru yang berseragam PGRI melaksanakan upacara peringatan tersebut. Tidak hanya di negara kita, hari guru juga dilaksanakan diberbagai negara lain, namun berbeda tanggalnya. Tidak menjadi sebuah masalah. Esensi yang perlu kita perhatikan terkait peringatan ini tentu saja bukan semata upacaranya, namun lebih dari itu. Beberapa hari yang lalu kebetulan dengan teman kita membicarakan bagaimana beban seorang guru yang tidak ringan, bahkan dengan ragam kurikulum yang sekarang ini digunakan. Kemudian penerapannya diberbagai daerah yang belum tentu sama, mengingat fasilitas dan sarana yang belum merata. Apakah kemudian kita menyerah karna keberadaan alat yang belum sama? Tentu saja tidak, karna kembali pada yang menentukan adalah manusianya, sosok guru tersebut. Pembahasan yang lain tentu jamak sudah kita ketahui,